Jakarta, Majalah Forum – Jumlah desa di seluruh Indonesia mencapai 74.957 dan 8.974 kelurahan. Sebagian besar penduduk Indonesia tinggal dan mencari nafkah di desa.
Tak aneh jika persoalan kesejahteraan terjadi di desa, mulai dari persoalan kemiskinan, pendidikan hingga keterbelakangan. Sejak Proklamasi Kemerdekaan 77 tahun yang lalu, masyarakat desa selalu kalah dengan masyarakat kita utamanya pada soal peran serta pembangunan, ketimpangan sosial ekonomi, akses pendidikan dan kesehatan serta ketidakadilan.
“de CENTER hadir untuk membantu mengatasi persoalan di desa,” kata Ketua de CENTER, Samsul Hadi kepada wartawan dalam acara launching de CENTER dan Lembaga Ekonomi Swasta Indonesia (LESI) di kantornya, Jl. Iskandarsyah 2, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (08/12/22).
Samsul Hadi yang juga Ketua Umum Lembaga Kajian Nawacita (LKN) menegaskan bahwa desa sebagai tempat petani, pekebun, dan peternak telah banyak melahirkan pemimpin.
Desa juga menjadi simbol harmoni tatanan kehidupan sosial yang selaras dengan kehidupan.
“Persoalan mendasar di desa adalah tidak pernah memenangkan dirinya sendiri. Statusnya selalu terbelakang dan kurang maju. Desa hanya dipakai sebagai ladang pendulang suara. Mereka tidak mendapatkan keadilan. Sumber Daya Alam dikuasai oleh oligarki yang menghasilkan masyarakat termarjinalkan,” papar Samsul.
de CENTER, kata Samsul menjadi pusat kegiatan warga desa di seluruh Nusantara berbasis digital. Tujuannya ingin memenangkan perjuangan warga desa untuk Indonesia.
Visinya lanjut Samsul, Desa adalah Kita. Sedangkan misinya adalah mewujudkan tata kehidupan yang produktif dengan memberdayakan masyarakat agar mendapatkan lapangan kerja.
de CENTER merupakan wadah perjuangan komunitas warga desa untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Indonesia yang lebih baik adalah Indonesia yang sejahtera, berkeadilan, demokratis,ย dan humanis.
Menurut Samsul, Indonesia yang lebih baik mensyaratkan hadirnya pemimpin yang lebih
berkualitas – pasca kepemimpinan nasional 2024.
Mempertimbangkan kompleksitasnya persoalan yang diwariskan dan batasan waktu (5 tahun), maka sosok kepemimpinan nasional yang diharapkan warga desa minimal mampu menyelesaikan tiga agenda krusial, yakni kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan.
Samsul menegaskan bahwa ketiga persoalan mendasar inilah yang sudah terlalu lama menyandera negeri ini. Untuk itu, kepemimpinan nasional pasca 2024 harus sangat mumpuni, teges dan tegas, dicintai dan mencintai rakyatnya, mengayomi dan melindungi rakyat, sebisa mungkin berperangai dan berpenampilan merakyat serta jauh dari perbuatan tercela.
Sejalan dengan tujuan menuju Indonesia yang lebih baik, de CENTER hadir menjadi wadah perjuangan dan mengawal lahirnya โpemimpin sejatiโ yaitu pemimpin pemersatu, mengutamakan kepentingan rakyat, bangsa dan negara di atas kepentingan partai pengusung, serta tidak memiliki pamrih pribadi, golongan maupun kelompoknya.
Kesadaran inilah lanjut Samsul yang mendorong kebangkitan masyarakat desa untuk tidak
lagi larut dalam eforia semu.
“Saatnya warga desa berdaulat menentukan masa depannya sendiri, termasuk memutuskan pemimpin pilihannya sendiri,” pungkasnya. (ant).

