Jakarta, Forum Keadilan – Politik identitas adalah suatu keniscayaan. Tidak ada satu individu maupun entitas yang bisa lepas dari identitas. Tapi Istana dan gerombolannya sibuk berkampanye anti politik identitas.
“Mereka memang takut sekali dengan umat Islam. Makanya mereka mainkan isu ini,” ujar Effendi Choirie alias Gus Choi dalam diskusi bertajuk Mengulas Politik Identitas sebagai Pilar Kemajemukan Bangsa yang digelar di kantor DPP BroNies, Jatinegara, Jakarta Timur (Kamis, 18/05/2023).
Gus Choi menegaskan upaya untuk menjegal Anies Baswedan sebagai calon presiden dilakukan pihak lawan di berbagai lini. Mulai dari politikus identitaa hingga boneka Amerika.
Intinya Anies harus dipenggal agar tidak masuk arena dengan cara merayu partai pendukung untuk membatalkan pencalonan Anies.
Pada awalnya PKS diajak, namun PKS sadar, sudah menjadi oposisi sejak lama kok tiba-tiba gabung ke rezim jelas aneh. Di samping itu PKS partai Islam, gak mungkin gabung dan berkoalisi dengan PDIP.
Tak hanya itu mereka juga membuat framing negatif terhadap Anies.
“Demo tolak Anies terjadi di mana-mana, semua itu ciptaan mereka. Bikin selebaran fitnah dengan judul Anies batal ke Banten. Pokoknya dibuat opini Anies ditolak di mana mana,” kata mantan polisi PKB itu.
Langkah berikutnya, kata Gus Choi adalah diciptakan agar seakan akan Anies tidak punya elektabilitas tinggi.
Bahkan dengan kekuatan buzzer, perolehan suara Anies dihack oleh mereka. “Ini bukan demokrasi, ini pertempuran setan,” katanya kesal.
Menurut Gus Choi peta pendukung Anies ada di seluruh Indonesia. Di seluruh Sumatera Anies menang, di seluruh Kalimantan Anies menang kecuali Kalbar.
Lalu di Bali, diakui Gus Choi, Anies kalah. Demikian juga di Sulawesi Anies Insya Allah menang, Madura menang,ย dan NTT fifty fifty. Gus Choi mengajak masyarakat untuk berkompetisi politik secara sehat.ย (*)

