Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil. |ย Penulis Lepas Yogyakarta
โKamuh tuh yahhh, kyek politikus, badan gede’, harta ada istri anak segala punya, tapi kerjanya cuma bisa ngutuk, berdo’a, mengaji dan bagi-bagi gambar semangka… untuk anak-anak, ibu-ibu dan banyak orang papa Palestina… iya kalau iya, kalau enggak?”
Kutipan di atas adalah petikan rencana status WA, namun penulis urungkan dengan pertimbangan aktualisasi keterampilan menulis serta elaborasi dan pendalaman tema bahasan. Penulis juga menjadikan berbagai peristiwa lain khususnya di dunia maya/media massa dalam rangka memperkuat latar belakang, bangunan, serta orientasi argumen.
Saleh, adalah suatu kondisi yang baik, bukan hanya disukai oleh orang-orang saleh atau yang condong menjadi saleh, namun juga oleh orang-orang jahat.
Menjadi baik atau saleh sebenarnya secara skema teori atau paradigmatik mudah saja, artinya rumusnya adalah mengikuti petunjuk dari Allah berupa al-Qurโan dan bimbingan NabiNya.
Baik, saleh, atau tidak jahat belakangan menjadi tema bahasan dan materi berbagai orasi baik dalam bentuk khutbah atau melalui literasi. Seiring berbagai persoalan yang dihadapi dunia, berupa berbagai persoalan-persoalan kemanusiaan, konflik kenegaraan serta permasalahan primordial lain menjadi cerminan nyata dalam kehidupan untuk merevitalisasi cara hidup sejati.
Dengan kembali ke jalan agama sebagai pedoman terbaik, baik dalam rangka membentuk kesalehan seseorang atau mengembalikan kesalehan diri berupa pertobatan karena terlalu jauh melangkah misalnya, atau menyebarkannya sebagai bagian amal saleh juga yaitu dakwah.
Namun tahukah anda, menjadi saleh dapat ditemukan dalam berbagai bentuk kepribadian.
Sebagaimana disinggung di atas, meski membagi-bagi gambar semangka termasuk bagian dari keterlibatan serta partisipasi aktif dan kontribusi nyata mendukung perjuangan Palestina. Sebut saja mengutuk, menyatakan secara frontal untaian doโa di jejaring sosial adalah bagian dari kebaikan dan karenanya menjadi bentuk kesalehan.
Sikap konsistensi dalam menjalankan perintah agama adalah satu bentuk usaha kembali kepada agama. Konsistensi atau sikap istiqamah dibutuhkan dalam perwujudukan kesalehan. Maka sudah pasti sikap pertentangan berupa kontradiksi merupakan bagian yang patut dihindari.
Dikatakan kontradiksi, satu sisi mengajak kembali kepada agama Allah tetapi satu sisi mendakwahkan โwahnโ. Satu sisi mengucapkan keseriusan berupa komitmen terhadap satu jalan, sebut saja kembali kepada kemurnian Islam (revival), sebagai jalan kembali kepada ajaran agama (revital), namun kontras dalam kenyataan yang justru menyeru untuk menikmati dunia. Terlebih karunia nikmat khas keduniaan dimaknai secara berlebihan.
Dakwah atau mengajak kepada kebaikan tentunya berbeda dengan menjerumuskan ke jurang kebinasaan atau kehancuran. Dakwah justru bersifat membangkitkan kebenaran dari dalam diri serta dari โsekadarโ literasi, dan tidak dengan menjerumuskan kepada kepentingan khas keduniaan dan rawan dengan pertikaian.
Jika Rasul menyebutnya dengan โwahnโ yaitu โpintu-pintu gemerlap dunia maka hal ini disepakati dengan nurani atau fitrah manusia sebagai kebenaran.
Hal ini terkonfirmasi dalam pandangan para pemikir khas sufistik yang memandang โwahnโ sudah sepatutnya dijauhi, atau setidaknya diantisipasi dan diwaspadai, Allahu aโlam. (*)

